Bos (Pria) yang Keras Lebih Disukai Karyawan

Jangan takut jadi bos yang galak, terutama jika Anda pria. Itulah kira-kira kalau mau sedikit diplesetkan pesan yang muncul dari hasil studi yang diterbitkan bulan ini oleh Institute of Leadership & Management, Inggris. Intinya, studi tersebut menemukan bahwa karyawan ternyata lebih suka bekerja untuk bos yang keras tapi sukses ketimbang bos yang lembut tapi gagal memberikan nilai-nilai keberhasilan.

Studi yang dilakukan atas 1500 manajer tersebut lebih jauh berbashil mengungkap, kerjasama tim dan fokus pada orang merupakan elemen yang harus dimiliki oleh pemimpin, namun hal-hal positif tersebut tidak banyak membantu ketika seorang pemimpin harus memberikan nilai-nilai yang baik. Namun, bagaimana jika bos yang keras tersebut perempuan?

Menurut asisten profesor manajemen pada Whitman School of Management di Syracuse University Kristin Byron mengatakan, para manajer pria yang diasumsikan kasar, tidak peka dan cuek ternyata tidak dianggap menyebabkan hasil yang buruk. Melainkan, manajer wanita yang memiliki sifat-sifat seperti itulah yang dianggap bermasalah.

Byron menguji, apakah menjadi baik pada titik-titik emosi tertentu berarti para manajer telah membuat staf mereka puas. Dia menemukan bahwa para manajer wanita yang tidak bisa membaca emosi-emosi tersembunyi, seperti ekspresi wajah, isyarat gerak tubuh, nada suara, dinilai kurang peduli dan akhirnya dianggap kurang memuaskan staf.
Sementara para pria yang menduduki jabatan yang sama, yang buruk pada titik-titik emosi tertentu, tidak dilihat negatif.

Temuan-temuan tersebut diterbitkan dalam Journal of Occupational and Organizational Psychology. Byron juga menanyai para staf dari manajer-manajer tersebut untuk mengetahui seberapa supportive dan persuasif-nya para manajer tersebut, dan seberapa puas mereka dengan perilaku para bos itu.

“Tampaknya, para manajer wanita diharapkan lebih peka terhadap emosi-emosi (orang) lain dan memperlihatkan sensitivitas tersebut dengan memberikan support emosional,” ujar dia. “Oleh karenanya, kinerja para manajer wanita dinilai berdasarkan pemahaman, kebaikan, dukungan dan sensitivitas mereka.”

Sebaliknya, sambung Byron, hal yang sama tidak menjadi dasar pertimbangan ketika orang (staf) menilai kinerja manajer pria. “Jauh lebih penting bagi para manajer pria, dan bagi semua pria pada umumnya, untuk dilihat bahwa mereka analitis, logis dan bagus dalam beralasan ketimbang memperlihatkan kepedulian dan concern pada orang lain.”

Tags: ,