Bos-bos Mulai Pantau Kandidat dari Social Media

Kini berhati-hatilah bertingkah-laku di jejaring social media. Masa depan Anda bisa jadi akan ditentukan oleh seberapa bagus jejak rekam digital di dunia online. Paling tidak di negara tetangga Australia, hal ini sudah diterapkan untuk urusan rekrutmen. Seperti apa persisnya?

Jika Anda selama ini suka iseng di jejaring sosial, mulai sekarang pertimbangkanlah. Pasalnya, riset yang baru saja dilakukan oleh perusahaan telekomunikasi di Australia, Telstra, menunjukkan bahwa para petinggi manajemen di perusahaan mulai memantau jejak rekam digital seorang kandidat di jejaring social, utamanya Facebook dan Twitter.

Darren Kane, Officer of Internet Trust and Safety Telstra membeberkan temuan riset yang baru dirilis seperti ditampilkan di website resmi Telstra. Survei yang melibatkan 1.225 responden ini memberikan sinyal bahwa lebih dari seperempat bos di negeri Kangguru tersebut kini mengamati jejaring sosial untuk menyeleksi calon pekerja potensial sebelum mereka memutuskan menerima atau tidak si calon tersebut.

“Rambu-rambu tersebut meliputi bagaimana mereka melakukan postingan, berbagi foto atau video, maupun di dalam memberikan komentar yang tidak menyenangkan atau bahkan bersifat rasis,” jelas Darren sambil menyarankan agar para pencari kerja untuk lebih berhati-hati dan berpikir dua kali sebelum melakukan posting atau membagikan sesuatu di akunnya.

Secara garis besar penelitian Telstra ini mengungkapkan beberapa hal:

1)      To Friend or not to Friend: Lebih dari setengah dari bos menolak permintaan ‘teman’, dengan tiga dari lima si bos tersebut melaporkan bahwa pertemanan tersebut mengaburkan antara batasan kolega profesional dan yang benar-benar teman.

2)     Cyber CVs limiting employment opportunities: perilaku di top social media menghitung dari beberapa pelamar melakukan posting komentar negatif tentang tempat kerja mereka (sebanyak 44%, di mana si bos akan langsung menolak) diikuti oleh posting diskriminatif (37%) dan posting yang berisi informasi rahasia (32%).

3)     Snoop alert: sebanyak 18% dari level bos kini mulai memanfaatkan koneksi jaringan sosial untuk meyakinkan bahwa karyawannya tidak memposting komentar yang menghina diri sendiri atau perusahaan, sedangkan 15% melakukannya untuk mengawasi produktivitas karyawan. Satu dari lima bos malah memilih proaktif  ber’teman’ dengan staf mereka di Facebook untuk mendapatkan insight.

4)     Facebook vs LinkedIn: Facebook menjadi tools yang digunakan oleh si bos untuk mengawasi pelamarnya (41%) diikuti oleh profil LinkedIn (31%) dan Twitter feed (14%).

Berikut ini tips untuk mengelola CV Cyber ​​Anda dari Telstra:

1)      Check your social networking pages: Periksa halaman wall Facebook, Twitter feed dan account LinkedIn secara berkala. Hapuslah bahasa atau gambar yang mungkin mengganggu, mempermalukan atau menyakiti orang lain.

2)     Use the right social media tool: Situs seperti Facebook dan Google+ menyediakan cara yang baik untuk berkomunikasi secara sosial, terbuka untuk khalayak luas termasuk teman dari teman. Sedangkan LinkedIn adalah cara yang bagus untuk berbagi informasi industri terkait publik ke jaringan profesional Anda.

3)     Make privacy a priority: Review dan gunakan pengaturan privasi yang tersedia, serta pastikan apakah Anda benar-benar ingin menjalin friends of friends untuk saling berbagi?

4)     Stay current: Periksa profil Anda dan lakukan up-to-date untuk mencerminkan Anda sebagai pribadi yang menarik. Bahkan jika Anda tidak sedang mencari pekerjaan sekali pun, profil Anda di jejaring sosial someday bisa jadi akan mempertemukan Anda kepada pekerjaan impian.

5)     Do keep confidential information and derogatory comments to yourself: Jika Anda tidak senang dengan wajah seseorang, jangan katakan secara online, termasuk gumaman tentang bos yang menjengkelkan Anda.

Setelah membaca fakta-fakta tersebut di atas, ditambah dengan tips-tips untuk bijak di social media, kini pilihan ada di tangan Anda. Jejak rekam Anda akan tertinggal di dunia online untuk jangka waktu yang sangat lama. Kalau sudah begini, apakah Anda masih berpikir bahwa social media hanya untuk hura-hura? (rudi@portalhr.com)