Bisnis Gagal Manfaatkan Teknologi

Banyak eksekutif yang senang membelanjakan anggaran untuk teknologi baru. Tapi, terlalu sering mereka tidak memahami apa yang bisa dilakukan oleh “mainan” baru tersebut. Sehingga bukannya mendapat keuntungan, tapi justru kehilangan kesempatan besar untuk menjadikan bisnis mereka lebih baik.
Sebuah riset yang dilakukan Chartered Management Institute (CMI) di Inggris menemukan, meskipun secara umum para CEO menyadari nilai keuntungan dari teknologi, mereka sering tidak siap untuk secara personal meluangkan waktu dan perhatian untuk memahami potensi nyata dari teknologi-teknologi baru.
Dengan hampir tiga perempat proyek-proyek IT diperkirakan telah gagal pada 2005, CMI mengingatkan sejumlah tantangan utama yang harus diatasi para CEO agar bisa mendapatkan keuntungan strategis melalui penggunaan teknologi.
Dalam riset tersebut, CMI mengkaji 1000 proyek IT ditambah wawancara mendalam dengan 20 orang CEO dan jajaran kepala bagian informasi (CIO). Menurut CMI, ketika melihat proyek-proyek IT, penting untuk melihat pula bagaimana semua itu mengubah bisnis dan memberi nilai tambah dalam jangka panjang.
CEO harus memahami bahwa IT hanya satu bagian dari kerangka besar ketika perusahaan hendak membentuk model-model bisnis baru. Dan, bukannya menjadikannya sebagai model bisnis itu sendiri.
Adapun kepada para CIO, CMI menekankan pentingnya mereka memiliki keahlian bisnis, sebagaimana mereka ahli dalam segi teknik. Dengan begitu, mereka bisa melihat kerangka yang lebih besar, dan pada saat yang sama CEO perlu memahami isu-isu baru IT yang berkaitan dengan bisnis.
Selain itu, CEO diharapkan juga menyadari adanya perbedaan antara instalasi dan implementasi, dengan menyelaraskan antara perubahan tekonologi dan kebutuhan organisasi.  “Terlalu banyak contoh di mana uang keluar begitu banyak tapi pencapaian yang didapat hanya sedikit,” ujar CEO CMI Mary Chapman.
“Itu merupakan harga yang harus dibayar untuk keputusan para CEO yang tak melibatkan CIO dan manajer IT mereka,” tambah dia. “CEO yang gagal mengambil keputusan strategis atau hanya menuruti ketertarikan personalnya saja tak mungkin memberi dorongan dan inspirasi yang dibutuhkan untuk perubahan menuju sukses.”

Tags: