Biaya Medical Karyawan Meningkat hingga 10% di Asia Pasifik

Terdapat banyak cara bagi sebuah perusahaan untuk memberikan compensation and benefit bagi para karyawannya. Salah satunya adalah dengan memberikan penggantian biaya medis, dari mulai penggantian sebagian dari total biaya pengobatan hingga yang betul-betul diganti seratus persen. Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh Towers Watson 2012, nilai kompensasi medis ini rupanya mengalami kenaikan di wilayah Asia Pasifik. Pada tahun 2012 ini, jumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh rata-rata perusahaan diperkirakan mencapai 10,2 % meningkat 0,1% dari tahun 2011 yakni sebesar 10,1%.

Peningkatan kompensasi medis tersebut disumbang oleh negara India dengan tingkat pembayaran sebesar 13%. Negara China juga ikut berkontribusi dengan kenaikan kompensasi medis di negara tersebut meningkat menjadi hampir 10%. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya  kebutuhan karyawan di bidang pelayanan kesehatan swasta dan semakin maraknya bisnis asuransi. Ketika kompensasi di negara lain di Asia Pasifik mencapai 10%, tidak demikian di Singapura dan Hongkong, di kedua negara terebut, kompensasi medis masih dalam rating 8% dan 9% saja.

Menurut para responden, kenaikan nilai medical reimbursement tersebut dikarenakan oleh tiga hal. Yang pertama adalah adanya teknologi baru dalam bidang kesehatan. Setidaknya 52% responden mengungkapkan hal tersebut. Kedua, 50% responden menyatakan bahwa banyaknya pelayanan kesehatan yang direkomendasikan oleh praktisi kesehatan juga menjadi pendorong naiknya kompensasi kesehatan ini. Yang terakhir, sebanyak 31% respon menduga kenaikan rating ini disebabkan oleh faktor provider, seperti rumah sakit atau klinik,yang ingin mengambil keuntungan dari kompensasi ini.

Menurut Dr. Parekh, Asia Pacific director of Health and Corporate Wellness Towers Watson, kenaikan ini bukan berarti sepenuhnya kabar buruk bagi para pemberi kerja, karena hasil survey cenderung lebih baik dari tahun sebelumnya.

“Berita ini bukan semata-mata kesuraman dan malapetaka. Setidaknya, tingkat kenaikan kompensasi medis mengalami penurunan di seluruh region. Bahkan di Asia, meskipun separuh responden menginginkan kenaikan kompensasi medis untuk lima tahun ke depan, jumlahnya relatif menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 80% dari total responden,” ungkapnya.

Meski kenaikan rating kompensasi medis terbilang kecil, perusahaan tetap harus mengambil sikap tegas untuk meminimalkan pengeluaran. Dari berbagai metode penentuan kompensasi medis, Parekh mengungkap bahwa saat ini, mulai banyak praktisi yang berfokus pada employee wellness. “Di Asia khususnya, pemberi kerja mulai melihat program kesehatan (wellness) sebagai peluang baru, mereka bekerja sama dengan vendor-vendor tertentu untuk memberikan pelayanan kepada karyawan.

Ia menambahkan bahwa program tersebut tidak hanya akan mengurangi cost dalam jangka pendek, tetapi juga dapat meningkatkan kesehatan karyawan yang akan berdampak pada peningkatan produktivitas dan employee engagement di masa depan.

Tags: