Betulkah Sarjana Indonesia Kurang Berkualitas?

handry satriago

Baru-baru ini OECD (Organisation for Economic Co-Operation and Development) atau  Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan menyoroti perihal para sarjana Indonesia. Laporan OECD tersebut menyatakan bahwa sarjana Indonesia merupakan rantai terlemah dalam pertumbuhan ekonomi.

Walaupun Indonesia dinilai mempunyai kekayaan sumber daya alam yang besar, namun kurang ditunjang dengan pengembangan sumber daya manusianya, terutama lulusan akademisinya. “Sarjana Indonesia seringkali tak memiliki skill yang dibutuhkan perusahaan,” demikian laporan OECD.

OECD menyayangkan susahnya mencari sarjana  yang berkualitas di Indonesia. Perusahaan mengaku kesulitan merekrut seseorang yang bisa berpikir kritis dan melakukan transisi yang akurat ke pekerjaannya. Bahkan laporan yang meneliti perbedaan kemampuan berpikir, teknis dan tingkah laku berdasarkan survei Bank Dunia menyatakan, 20-25% sarjana di Indonesia masih membutuhkan training ulang sebelum melakukan pekerjaan mereka.

“Sarjana Indonesia tertinggal dari negara-negara lain dan kurang bisa berkompetisi secara global. Negara lain, seperti India, mampu menghasilkan dokter, insinyur dan ilmuwan yang diburu seluruh dunia,” lanjut OECD.

Seberapa benar laporan OECD tersebut? Bila diukur dari sisi pengembangan SDM-nya, Indonesia memang tertinggal dari negara-negara berkembang lain. Menurut laporan terbaru yang disiarkan UNDP terkait Human Development Index (HDI), Indonesia masih bertengger di posisi 124 dari 187 negara. Peringkat itu jauh di bawah Brunei (33), Malaysia (61), Srilanka (97) dan Thailand (103). HDI adalah indikator pengembangan manusia di suatu negara, berdasarkan beberapa aspek, seperti pendidikan, kesehatan, standard hidup, dan kesejahteraan anak.

Masih Ada Harapan

Menurut Handry Satriago, CEO GE Indonesia, masih susah mengukur secara empiris kualitas sarjana Indonesia, karena belum ada study yang komprehensif untuk itu. Namun Handry juga tidak membantah bahwa jumlah sarjana kita yang menjadi global employee masih

sedikit dibanding negara ASEAN lain seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

“Walaupun laporan tersebut ada benarnya, tetapi dalam skala yang lebih spesifik pada kenyataannya tidak terlalu buruk,” ujar Handry. “Indonesia masih mempunyai tenaga kerja medis yang lebih baik untuk ilmu-ilmu penyakit tropis,” tambah Handry.

“Lulusan Indonesia di bidang IT juga masih mumpuni, terutama design graphis dan animasi, begitu juga dengan tenaga engineer yang kalau dilihat dari jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan negara lain,” ujar Handry yang concern dengan global talent di Indonesia.

Meskipun jumlah sarjana Indonesia berlimpah, namun sarjana-sarjana yang berani kompetitif-lah yang akan menunjukkan kualitas Indonesia di mata dunia. “Anak-anak muda sekarang adalah  yang motor dari perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik di tahun-tahun mendatang,” imbuh Handry. “Anak-anak muda yang merdeka cara berpikirnya, memilih dan bertindak rasionalitas yang kuat, bukan berdasarkan ikut-ikutan,” tambah Handry.

Untuk itu harapannya untuk Indonesia adalah bergerak maju dimotori anak-anak muda yang berpendidikan tinggi, berpikiran luas, dan bertindak dengan rasionalitas kuat,” tambahnya.

GE sendiri memiliki standardisasi dalam perekrutan talent. “GE sejauh ini nyaman dengan lulusan perguruan tinggi yang kita rekrut, terutama mungkin karena kita kebanyakan mengambil dari top universities,” ujar Handry.

Kembali Handry menyemangati sarjana-sarjana Indonesia agar bisa menjadi global Leader nantinya yaitu dengan memiliki mimpi. “Mimpi untuk masa depan adalah bara yang menyalakan semangat kehidupan,” terang Handry. (@nurulmelisa)

(@nurulmelisa)
Tags: