Berikan Campuran Remunerasi yang Tepat untuk Karyawan

cocktail

 

 

 

 

 

 

 

Reward, kompensasi, gaji, remunerasi, selalu menjadi topik yang hangat. Tidak hanya heboh dibicarakan di kalangan karyawan, tetapi juga di kalangan direksi dan manajer. Sebenarnya pola Reward apa yang cocok diterapkan di Indonesia? Jawabannya beragam.

Jika Anda ingat di tahun 2008-2009 lalu, pemberian gaji berlebihan atau excessive executive pay di level CEO menimbulkan polemik. Perusahaan dinilai gagal men-deliver kebijakan kompensasi tersebut. Mereka cenderung membuat program insentif yang salah dan kurang mengetahui apa yang dibutuhkan untuk bisnis jangka panjang.

Permasalahan yang kerap muncul dikarenakan perusahaan biasanya hanya menjalankan 1 program unggulan saja untuk Reward. Entah itu kenaikan gaji atau penunjangan fasilitas.

“Perusahaan seharusnya mempunyai paket total reward yang lengkap dan holistik,” ujar Nugroho Irawan, Director Reward Practice Hay Group.

Nugroho menggambarkan demografi di Indonesia yang terdiri dari ratusan etnis dan bahasa. Hal ini membuat lingkungan SDM dengan berbagai kultur yang berbeda. Namun keberagaman tersebut juga membuat bisnis dijalankan dengan gaya masing-masing.

“Perusahaan harus menemukan kombinasi remunerasi yang tepat dan memahami faktor apa saja yang memotivasi karyawan yang berasal dari beragam suku dan latar belakang tersebut,” ujar Nugroho. Kombinasi remunerasi yang tepat penting bagi perusahaan untuk menarik talent dan mempertahankan karyawan terbaik.

Sekarang pertanyaannya bagaimana campuran remunerasi paling tepat untuk kondisi perusahaan? “Kombinasi remunerasi yang tepat terdiri dari fixed pay (gaji pokok), insentif jangka pendek, insentif jangka panjang (opsi saham), benefit, dan fasilitas tambahan,” ujar Nugroho.

Kemampuan perusahaan untuk memberikan reward dilihat dari semua faktor penunjang yang ada. “Besaran gaji pokok di Indonesia beragam, tergantung dari jenis industri perusahaan. Misalnya perusahaan yang sudah go public secara umum membayar 16% lebih tinggi dari perusahaan lain,” ujar Nugroho.

Ia juga menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan lokal membayar lebih kecil gaji pokok 9% dibandingkan perusahaan asing. Dan di level eksekutif pada perusahaan swasta dibayar 23% lebih tinggi dibanding level yang sama pada perusahaan negara (BUMN).

Sementara insentif jangka panjang masih merupakan hal yang baru dalam penerapan reward di Indonesia. Seperti stock option masih kurang populer untuk dijadikan insentif jangka panjang. “Dalam kasus di mana saham dijadikan insentif jangka panjang, nilai yang diberikan sering kali tidak cukup untuk menghasilkan level motivasi yang tepat bagi para eksekutif,” tutur Nugroho.

Saat ini program benefits and compensation yang paling banyak digunakan adalah pemberian bonus. Prosentase bonus terhadap total remunerasi di Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia. Sekitar 49,2% di bawah India yang bertengger di peringkat 1 dengan angka 53,1%. (*/@nurulmelisa)

 

Gambar Cocktail dari Wikipedia

Tags: , , ,