Benefit Lebih Dituntut Menyesuaikan Gaya Hidup Karyawan

Jangan mengira bahwa benefit bisa menyelesaikan segalanya. Menyediakan aneka macam benefit yang menarik dan memuaskan kepada karyawan, belum tentu akan membuat Anda menjadi “employer of choice”. Harus ditambah dengan apa lagi?

Sebuah survei yang dilakukan perusahaan konsultan tempat kerja Croner di Inggris menemukan bahwa ketika banyak perusahaan berlomba memberikan berbagai benefit, sering muncul kesenjangan antara “apa yang diinginkan karyawan” dengan “apa yang diberikan oleh perusahaan”.

Lebih dari separo pemimpin perusahaan yang disurvei menyatakan bahwa karyawan mereka tidak mengambil semua benefit yang disediakan karena tidak sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan akan gaya hidup mereka.

Survei menemukan, dari 5 macam benefit teratas yang diberikan oleh perusahaan, hanya dua yang cocok dengan daftar “top 5 most desired” dari karyawan. Tim peneliti Croner menyimpulkan, paket-paket benefit dari perusahaan lebih sering tidak sinkron dengan (keinginan) karyawan saat ini.Lebih jauh, Croner juga menyoroti bahwa hal itu juga mengkhawatirkan dalam perspektif rekrutmen, mengingat perusahaan mestinya lebih atraktif terhadap calon karyawan dari lulusan baru.

Sembilan dari 10 pemimpin perusahaan, misalnya, justru menempatkan “dana pensiun” dan hampir tiga perempat menyebut “tunjangan kematian” sebagai benefit andalan.
Sementara, dalam prosentase yang lebih kecil 8 dari 10 karyawan mengakui, akses terhadap dana skema dana pensiun memang penting, namun “tunjangan kematian” hanya dianggap prioritas oleh 3 dari 10 karyawan.

Croner sendiri berpendapat, dana tunjangan untuk pensiun dan kematian mungkin bukanlah benefit yang cukup menarik bagi karyawan muda atau mereka yang baru lulur, dan itu menggarisbawahi bahwa kesenjangan dalam soal benefit juga terjadi antarusia karyawan.

Hampir separo karyawan yang disurvei mengaku akan lebih senang untuk mendapatkan benefit berupa asuransi perawatan kesehatan dan sepertiga menginginkan “flexitime”. Celakanya, banyak perusahaan yang justru tidak menyediakan dua jenis benefit tersebut.

Croner menyarankan agar para pelaku bisnis meninjau kembali skema-skema benefit perusahaan mereka dan mengimplementasikan hanya jenis-jenis yang dianggap prioritas oleh karyawan mereka. Menurut mereka, langkah itu tidak hanya akan membantu bisnis menarik talent-talent lulusan baru terbaik, tapi juga membantu karyawan mencapai keseimbangan yang lebih memuaskan antara hidup dan kerja.

Andrew Walker dari Croner Reward mengatakan, “Dengan gaya-gaya hidup modern yang semakin menuntut, karyawan sedang mencari perusahaan yang membantu mereka menncapai esensi keseimbangan hidup dan kerja, apakah itu dengan memberikan jam kerja yang lebih luwes atau melalui sesuatu seperti perawatan kesehatan gratis.”
“Bisnis bisa membantu mewujudkan keseimbangan itu dengan meninjau kembali secara terus-menerus kebijakan-kebijakan mereka (atas benefit) dan menyesuaikannya dengan kebutuhan-kebutuhan karyawan,” tambah dia.

“Di zaman ketika orang hidup untuk “di sini dan saat ini”, khususnya para lulusna baru lebih menyukai pekerjaan dari pengusaha yang bisa memberikan banyak hal lebih dari sekedar gaji (yang tinggi),” lanjut dia. Dalam kondisi seperti itu, Walker menyimpulkan, perusahaan-perusahaan bisa membuat satu langkah lebih maju dengan menyediakan berbagai benefit yang menarik yang bisa membantu karyawan memenuhi tuntutan gaya hidup mereka.

Tags: ,