Bekerja sambil Bermain Tingkatkan Retensi dan Produktivitas

Apakah suasana kerja di kantor yang Anda pimpin sudah cukup menyenangkan bagi para karyawan? Apakah Anda cukup humoris? Atau, sebaliknya, Anda suka memelototi anak buah yang bekerja sambil mendengarkan musik atau ngobrol via Yahoo Messenger?
Memberi kesempatan pada faktor-faktor kesenangan untuk berkembang di tempat kerja bukanlah hal yang merugikan perusahaan. Melainkan, justru bisa meningkatkan retensi dan produktivitas. Para pemimpin HR sebaiknya mulai serius memperhatikan bahwa kegembiraan karyawan mempengaruhi pencapaian perusahaan.

Di perusahaan seperti Microsoft, bersenang-senang di kantor bukanlah hal yang dilarang mealainkan justru didorong, demikian dicontohkan oleh Adrian Gostick, anggota tim penulis buku The Levity Effect: Why It Pays to Lighten Up, sebuah karya baru tentang memasukkan “enjoyment” ke dalam “employment”.”Kegembiraan memberi energi bagi karyawan untuk menyelesaikan hari kerjanya,” ujar Gostick, yang sebelumnya telah menulis dua buah buku laris tentang isu-isu bisnis.

Dalam buku barunya, yang ditulis bersama Scott Christopher, dia meneliti tempat-tempat kerja di Amerika yang memberikan kesempatan kepada karyawan untuk “bekerja sambil bermain”. Dari permainan “roller-hockey” di Google, muter-muter naik scooter di Lego America maupun menerbangkan pesawat kertas di Thiokol, Gostick menyimpulkan bahwa mengizinkan bersenang-senang sejenak di kantor sangat besar artinya bagi terciptanya kegembiraan jangka panjang karyawan.

Survei yang dilakukan atas karyawan perusahaan yang masuk daftar Fortune’s100 Best Companies to Work For 2007, 81% mengaku mereka bekerja di “lingkungan yang menyenangkan”. Angka tersebut berbanding dengan 62% karyawan yang bekerja di perusahaan lain. Lingkungan kerja yang menyenangkan juga membantu meretensi karyawan. Survei yang dilakukan Gostick untuk buku terbarunya itu mengungkapkan, karyawan yang menilai atasan mereka humoris mengaku kerasan dan akan tetap bekerja di perusahaan tersebut.

Solidaritas

Profesor Manajemen pada Sekolah Bisnis di Kansas State University Diane Swanson mengatakan, kegiatan-kegiatan yang menyenangkan bisa menciptakan ikatan di antara para karyawan serta membantu mengembangkan iklim kepercayaan dan solidaritas.
Hal itu dibenarkan oleh Gostick.

“Kami menemukan dalam penelitian ini bahwa ketika karyawan tertawa, mereka mendengarkan. (Tertawa membuat) pikiran terbuka, peredaran darah lancar dan mereka jadi mudah menerjemahkan pesan-pesan dari atasan.”Oleh karenanya Gostick menyerukan kepada para pimpinan HR agar menciptakan tempat kerja yang lebih menyenangkan, dan menurut dia, saat terbaik untuk memulainya adalah ketika perusahaan baru saja mencatatkan pencapaian yang signifikan.

“Bukan sekedar makan atau nonton atau karaoke bersama dengan CEO di waktu-waktu tertentu, melainkan sesuatu yang lebih menyeluruh yang dampaknya membuat kerja setiap hari menyenangkan,” pesan Gostick.

Tags: