Banyak Manajer Selewengkan Jam Kerja

Mencuri-curi waktu di sela jam kerja untuk urusan pribadi? Barangkali itu ‘biasa” dalam arti, hampir semua orang barangkali pernah melakukannya. Setidaknya, separo dari karyawan di Amerika percaya bahwa bos mereka banyak menyalahgunakan jam kerja sambil meminta bawahan untuk bekerja keras.

Di samping itu, mereka juga menduga bahwa para bos di atas mereka itu tidak sepenuhnya jujur dan terbuka dengan tim, utamanya mengenai waktu yang mereka gunakan untuk urusan-urusan di luar pekerjaan yang jelas-jelas mengganggu jam kerja.Demikian kesimpulan dari hasil riset yang dilakukan perusahaan konsultan HR Deloitte atas 4000 orang karyawan. Intinya survei memperlihatkan, separo dari karyawan percaya bahwa bos mereka menerapkan standar yang berbeda (bagi karyawan dan diri mereka) dalam praktik fleksibilitas (jam) kerja.

Menariknya, ditemukan juga bahwa mereka yang bergaji lebih tinggi secara umum merasa bahwa mereka memiliki keleluasaan untuk menyeimbangakn antara urusan pekerjaan kantor dengan prioritas-prioritas personal. Kontradiksi lainnya muncul dari fakta bahwa tiga perempat karyawan ternyata juga merasa bahwa setiap orang di kantor mereka diperlakukan sama dalam hal fasilitas jam kerja yang fleksibel.

Dengan kata lain, cukup jelas bahwa karyawan menghargai keterbukaan dan kejujuran dari pemimpin mereka, dan percaya bahwa hubungan yang “dikembangkan” antara karyawan dan manajer cenderung memberikan keuntungan yang nyata dalam bisnis.

Budaya Kerja yang Penuh Semangat

Lebih dari 8 dari 10 karyawan sepakat bahwa keterbukaan yang dikembangkan oleh pemimpin mereka mendorong terciptanya lingkungan kerja yang lebih bersemangat. Dan, lebih dari dua pertiga mengatakan, keterbukaan dari pemimpin akan menciptakan organisasi yang memiliki nilai-nilai yang kuat.

Oleh karenanya, hampir tiga perempat karyawan berharap, bos mereka lebih jujur ketika memanfaatkan waktu di sela jam kerja untuk urusan peribadi mereka. Diyakini, kejujuran dalam hal itu akan menciptakan lingkungan yang lebih produktif.

“Dewasa ini dunia kerja menuntut lebih customized dan lebih fleksibel,” simpul Direktur Deloitte Sharon L Allen. “One size fits all tidak lagi menarik dan mampu meretensi talent yang bagus. Survei kami menunjukkan bahwa karyawan bisa dimotivasi dengan cara-cara yang berbeda.”

“Faktanya, survei kami menemukan bukti bahwa lebih dari delapan puluh persen karyawan mendapatkan keuntungan dari pengaturan kerja yang customized,” tambah dia.
Dan, jika selama ini fleksibilitas jam kerja identik dengan tuntutan kaum pekerja wanita, maka menurut Allen, pria pun sebenarnya menginginkan hal yang sama.

Tujuh puluh empat persen karyawan pria mengaku akan lebih produktif dan termotivasi di tempat kerja jika mereka memiliki keleluasaan waktu untuk menyeimbangkan antara urusan pribadi dengan kegiatan kantor.

Tags: