Banyak Karyawan Keluar Karena Perlakuan Kasar

 

Perlakuan kasar yang menyerang seseorang secara verbal terus membayangi tempat-tempat kerja. Tiga dari 10 eksekutif HR mengaku bahwa mereka melihat karyawan keluar dari perusahaan karena mengalami bullying.

Survei yang dilakukan terhadap 100 orang profesional HR oleh perusahaan outplacement Challenger, Gray & Christmas di Chicago tersebut juga menemukan, sepertiga eksekutif menjadi saksi atau pernah mengalami bullying di tempat kerja.

“Secara statistik, bullying jauh lebih lazim terjadi dibandingkan pelecehan seksual, kekerasan di tempat kerja atau pun diskriminasi rasial dan biaya-biaya jangka panjang yang harus ditanggung perusahaan cukup besar,” ujar CEO Challenger, Gray & Christmas John Gray.

“Di samping itu, bullying juga masih merupakan salah satu dari masalah-masalah manajemen yang paling sering dihadapi oleh manajemen dan pengadilan,” tambah dia.

Riset yang akan dipublikasikan dalam Journal of Managemen edisi September tersebut menduga, banyak budaya perusahaan yang tanpa disadari kadang memicu, mendorong dan bahkan menghargai bullying.

Namun, sejauh ini, kesadaran orang terhadap fenomena bullying masih sangat rendah. Di Amerika, hanya satu dari 10 orang yang menyadari bahwa perilaku yang mereka perlihatkan sebenarnya merupakan bullying.

Riset menyimpulkan bahwa perilaku bullying tak lepas dari budaya (di) tempat kerja yang bersangkutan.

Kehidupan perusahaan memicu stres dan individualisme, di mana semua itu mengakibatkan individu-individu yang memiliki kekuasaan dalam organisasi melakukan bully terhadap yang lain.

Meskipun tidak ada data yang valid mengenai staff turnover yang terkait dengan bullying, namun dikatakan bahwa “tak diragukan lagi angkanya signifikan”.

Robert Sutton dalam bukunya yang berjudul The No Asshole Rule mengutip sebah perusahaan yang memperkirakan kehilangan 160 ribu dolar AS per tahun untuk biaya turnover dan penyelesaian kasus-kasus yang disebabkan hanya oleh satu talent yang temperamental dan berperilaku kasar.

Sementara itu, data dari Employment Law Alliance memperkirakan bahwa hampir separo karyawan di Amerika telah menyaksikan kekerasan verbal maupun fisik di tempat kerja.

“Sudah menjadi kewajiban perusahaan untuk mengindentifikasi para bully dan mendampingi mereka untuk mengubah perilaku mereka, atau jika tak bisa, keluarkan mereka,” ujar John Challenger.

“Setiap perusahaan yang kehilangan karyawan karena kasus bullying di tempat kerja, harus mencari penggantinya. Biaya replacement bisa mencapai 150 persen dari gaji karyawan yang digantikan itu.”

 

Tags: