Bangun Engagement untuk Tingkatkan Produktivitas Karyawan

“We have to get employees engaged.” Pernyataan ini dilontarkan oleh master trainer Organisasi Transformasi Indonesia (OTI) Ajai Singh, CPBA, CPVA, MBA, BA pada workshop Employees Engagement Survey, di Jakarta. Menurutnya, engagement memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap produktivitas dan kinerja karyawan.

Ajai Singh mengatakan bahwa saat ini dari perspektif global, engagement karyawan menurun drastis akibat ketidakjelasan kondisi ekonomi. Dari 60% engagement rate turun menjadi 23%. Setiap orang tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Orang-orang memilih tetap bekerja di perusahaan tempat mereka bekerja, tapi apakah mereka senang dan loyal terhadap pekerjaan mereka? Di sinilah dibutuhkan strategi untuk mengatasi kemerosotan employees engagement.

Engagement adalah sebuah pernyataan psikologis di mana karyawan merasa tertarik untuk ikut menentukan kesuksesan perusahaan tempatnya bekerja serta memiliki keinginan dan motivasi kuat untuk berkinerja melebihi kewajiban tertulisnya. Engagement mampu mendorong karyawan memiliki kinerja yang baik, menghasilkan produktivitas yang tinggi, mengeluarkan ide-ide terbaik dan komitmen yang tulus demi kesuksesan organisasi.

“Karyawan harus involved tidak hanya secara fisik, tapi juga pikiran dan emosional. Attached terhadap pekerjaan. Ini semua hanya bisa terjadi apabila karyawan memiliki engagement. Bila tidak ada engagement, karyawan akan merasa terpaksa dalam bekerja. Mereka berpikir, ini bukan sesuatu yang ingin saya kerjakan tetapi Anda meminta saya mengerjakan hal-hal yang saya tidak sukai. Dan, mereka tidak menyampaikan permasalahan ini,” ungkap Singh yang telah 22 tahun berkecimpung sebagai Management Consultant ini.

Menurut Singh, seorang karyawan yang memiliki engagement akan total dalam bekerja dan memiliki passion pada perkerjaannya. Ia juga akan peduli dengan masa depan perusahaan dan punya hubungan emosional yang positif dengan organisasi dan tujuan-tujuannya. Singh menandaskan, karyawan akan engaged apabila mereka mengerjakan yang ingin mereka kerjakan, dan mereka akan disengaged apabila hanya mengerjakan yang perlu mereka kerjakan.

“Seorang karyawan seharusnya melakukan pekerjaan di mana dia memiliki passion terhadap pekerjaannya. Coba bayangkan. Anda sebagai jurnalis, jika atasan Anda meminta Anda menulis satu artikel dalam satu minggu, sementara Anda tidak punya ketertarikan terhadap apa yang akan Anda tulis, apakah Anda dapat mengerjakannya dengan baik? Saya rasa tidak. When the need and the desire working together that’s when engagement really happen,“ katanya menjelaskan.

Employee Engagement Survey
Menurut survei employees engagement yang dilakukan oleh Marcus Buckingham, 1999, karyawan yang memiliki engagement terhadap tempatnya bekerja hanya 26 %, sementara 55% dinyatakan disengaged dan 19% actively disengaged. Survei ini dilakukan terhadap 108 ribu karyawan dari berbagai jenis industri. Markus menemukan bahwa hubungan yang baik dengan local manajer menentukan engagement dan produktivitas.

Dalam survei ini didapatkan data bahwa para pekerja akan memiliki engagement apabila mereka melihat manajer mereka melakukan 3C; Clear, Considerate, dan Collaborative. Clear berarti jelas dalam hal menghubungkan visi dan misi dengan pekerjaan individu, serta jelas mengenai pembagian kerja, siapa melakukan apa dan bahan yang diperlukan.

Considerate berarti menunjukkan kepedulian, respect, mau mendengar, mengamati dan memberi penghargaan terhadap pencapaian karyawan, serta memberi semangat untuk melakukan self development. Collaborative berarti fokus dalam co-management, melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan tim dan turut adil dalam membuat keputusan.

“Saya tidak yakin seorang manajer akan mampu membawa anak buahnya menapaki level pekerjaan yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki bakat jika karyawan tersebut tidak memiliki engagement,” papar master trainer Organisasi Transformasi Indonesia (OTI) Ajai Singh, CPBA, CPVA, MBA, BA pada workshop Employees Engagement Survey, di Jakarta.

Singh menambahkan, dalam membangun engagement antara pekerja dan tempatnya bekerja, perusahaan harus memahami apa minat, bakat, kekuatan dan kelemahan karyawan. Menurutnya, seorang karyawan tidak bekerja hanya karena menjalankan tugas, tetapi juga karena mereka senang melakukan pekerjaan itu. ”Setiap karyawan bisa saja memiliki bakat dan kemampuan, tapi ketidaktertarikan atau ketidaknyamanan mereka bisa membuat mereka tertekan dan tidak melakukan pekerjaan dengan baik,” ujarnya. Hal inilah yang diyakini Singh membuat karyawan menjadi disengaged.

“Kelemahan saya adalah, saya tidak mampu melakukan opening pada saat menjual, sedangkan Anda tidak mampu melakukan closing pada saat menjual. Anda mampu membuka jalan, tapi ketika memasuki tahap closing Anda kesulitan. Kenapa Anda bisa mengalami kesulitan? Karena Anda tidak suka dan tidak nyaman.

Lalu apa yang terjadi? Di dalam perusahaan, semua karyawannya mendapatkan training penjualan, bagaimana opening dan closing, tapi mereka punya ketertarikan yang berbeda. Saya tidak mampu melakukan opening dan Anda tidak mampu melakukan closing. Solusinya adalah dengan bekerja bersama, saya opening dan Anda closing,” tutur Singh bersemangat.

Ia berpendapat, pemahaman perusahaan terhadap karakter karyawan sangat memengaruhi tingkat engagement karyawan. Semakin perusahaan mengerti karakter dan kekuatan karyawan, semakin tinggi pula tingkat loyalitas karyawan. ”Saya percaya HR saat ini perlahan-lahan mulai menyadari bahwa mereka harus melihat karyawan dengan perspektif yang belum pernah digunakan sebelumnya. Membangun engagement dengan karyawan bukanlah sesuatu yang instan, yang bisa dilakukan dalam satu malam. Saya tetap punya harapan besar dan optimistis,” tambahnya. –Nani Maria Dewi

Tags: