Awas, Facebook Ancam Masa Depan Karir!

Separo dari manajer HR telah melakukan tindakan disiplin bagi karyawan yang buang-buang waktu di internet dan dua pertiga bahkan memblokir akses kantor terhadap situs jaringan sosial termutakhir yang kini digemari anak-anak muda, Facebook.
Demikian hasil studi yang dilakukan oleh perusahaan keamanan internet Clearswift di Inggris. Studi dilakukan menyusul peringatan Komisi Informasi setempat yang menyebutkan, anak-anak muda semakin terlena dengan website-website jaringan sosial, dan tak menyadari risikonya.

Menurut komisi tersebut, memposting informasi-informasi detail mengenai diri pribadi bisa mempengaruhi masa depan karir. Kekuatan dari situs-situs semacam itu sebelumnya telah ditunjukkan oleh riset yang dilakukan Royal Mail dan The Future Foundation yang menemukan bahwa rekomendasi dari mulut ke mulut secara online, utamanya melalui situs-situs jaringan sosial, semakin diperhitungkan.

Dua pertiga dari mereka yang disebut sebagai “generasi rekomendasi” muda, berpendidikan, “gaul” itu mengatakan, mereka lebih menyukai membeli produk berdasarkan rekomendasi online. Sementara, riset Clearswift atas lebih dari 300 profesional senior bidang HR menemukan, separo dari mereka telah “memerangi” atau menerapkan disiplin terhadap karyawan yang “membuang-buang waktu di internet”.
Dua pertiga kini bahkan telah melarang karyawan mengakses situs-situs jaringan sosial seperti Facebook, MySpace dan Bebo.

Web 2.0

Tidak hanya itu, 1 dari 5 profesional HR juga tidak membenarkan karyawan mengakrabi teknologi-teknologi Web 2.0 yang berada di belakang sejumlah situs jaringan sosial dan situs-situs lain seperti Wikipedia. “Dalam dua tahun terakhir, situs-situs jaringan sosial benar-benar menyita perhatian dan menimbulkan banyak tindakan indisipliner karyawan berkaitan dengan penggunaan internet di kantor, yang merepotkan para profesional HR. Tak heran jika banyak perusahaan melihat situs-situs semacam itu sebagai tantangan,” ujar VP bidang Strategi pada Clearswift Stephen Millard.

“Bagaimana pun memang penting bagi bisnis untuk memahami manfaat besar yang didapat dari upaya mengamankan akses terhadap Web 2.0. Konsumen semakin mempertimbangkan jaring-jaring sosial di internet untuk semua aspek kehidupan mereka sehari-hari dan akibatnya mereka berharap bisa berinteraksi dengan bisnis melalui media yang sama,” tambah dia.

Millard mengajukan jalan tengah. “Departemen HR yang inovatif akan menyiasati ini dengan menyiapkan diri untuk melakukan rekrutmen melalui situs-situs Web 2.0 seperti Facebook, LinkedIn dan Second Life, dan mengambil manfaat dari teknologi ini dengan menggunakannya secara aman.”

Konsumsi Publik

Lebih jauh riset yang dilakukan Kantor Komisi Informasi tersebut mememukan bahwa lebih dari separo dari 2000 responden yang berusia antara 14 hingga 21 tahun tidak keberatan informasi yang mereka posting di internet menjadi konsumsi publik.
Dua pertiga menerima teman baru lewat internet orang-orang yang sama sekali tidak mereka kenal. Sekitar 60% mengungkapkan data tanggal lahir, seperempat menuliskan jabatan/pekerjaan dan satu dari 10 memberikan alamat rumah.

Deputi pada Kantor Komisi Informasi David Smith mengatakan, “Banyak anak muda yang memposting hal-hal mengenai dirinya di internet tanpa berpikir bahwa itu meninggalkan jejak online.” “Biaya bagi masa depan seseorang akan sangat tinggi jika sesuatu yang tak diinginkan ditemukan oleh institusi-institusi pendidikan dan perusahaan yang semakin banyak menggunakan internet sebagai alat untuk mencari siswa atau karyawan potensial,” tambah dia.

Tags: ,