Asosiasi Rekrutmen Dirasa Semakin Penting

Tingginya angka pengangguran, rendahnya kualitas sumber daya manusia dan persoalan-persoalan HR lainnya yang masih banyak dihadapi organisasi di Indonesia semakin menuntut adanya dorongan untuk membentuk komunitas atau asosiasi para praktisi yang bergerak dalam bidang perekrutan tenaga kerja.

Demikian benang merah yang bisa ditarik dari presentasi General Manager Business Development pada Jakarta Consulting Group Patricia Susanto dalam acara Recruitment Community Networking yang digelar oleh JAC Indonesia di Sky Business Center, Jakarta, pekan lalu.

Patricia prihatin dengan adanya fenomena yang kontradiktif dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Pada satu sisi, angka pengangguran mendekati 10%. Namun, pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan penempatan tenaga kerja terus saja kebanjiran permintaan dari klien.

“Artinya, terjadi disparitas antara supply dan demand tenaga kerja,” simpul dia seraya memaparkan, disparitas itu terjadi karena banyaknya persediaan tenaga kerja di pasaran tidak diimbangi dengan kualitas yang memadai, sesuai dengan permintaan dari perusahaan-perusahaan.

“Minimnya tenaga kerja yang berkualitas, memiliki keahlian dan pengalaman membuat banyak perusahaan terpaksa mencari kandidat dari luar negeri,” ujar dia.
Menurut Patricia, jika hal itu memang tak bisa dihindari, dia menyarankan agar para praktisi rekrutmen mendorong kliennya untuk melakukan transfer pengetahuan, dari para ekspatriat ke tenaga kerja lokal.

Tukar Informasi

Selain itu, Patricia juga menegaskan problem ketenagakerjaan di Indonesia perlu diatasi dengan membentuk komunitas atau asosiasi para praktisi rekrutmen. “Dengan adanya asosiasi, maka anggotanya bisa saling bertukar informasi, serta berbagi ide dan kepedulian,” kata dia.

Lebih dari itu, Patricia juga menunjukkan pentingnya sebuah asosiasi praktisi rekrutmen sebagai sarana untuk mengecek referensi kandidat tenaga kerja. Menurut hemat dia, tidak ada tes-tes asessment yang seratus persen bisa menjamin integritas dan kejujuran kandidat.

“Jadi, salah satu cara terbaik untuk mengantisipasi hal itu tak lain dengan saling bertukar informasi antara anggoat asosiasi misalnya mengenai kandidat-kandidat yang tergolong dalam daftar hitam,” tandas Patricia.

Tags: