Angka Pengunduran Diri Orang HR Naik

Keterpaksaan untuk mengurangi jumlah karyawan selama masa resesi membuat para profesional melakukan “cut and run”. Angka pengunduran diri orang HR pun naik. Sebuah survei eksklusif yang dilakukan di Inggris mengungkapkan, satu dari tiga profesional HR meninggalkan pekerjaan mereka dalam setahun terakhir ini. Hal itu merupakan pilihan pahit yang mereka ambil, ketimbang harus mem-PHK karyawan.

Menurut laporan hasil penelitian bertajuk HR Salary Survey 2009-10 yang dipublikasikan oleh XpertHR, dari total 15,1% turnover tenaga kerja di bidang HR, angka pengunduran diri staf di bidang tersebut naik 5,2% tahun ini, berbanding 4,5% pada 2008.

Head of Benchmarking and Data Services pada XpertHR Mark Crail yang juga menulis laporan tersebur mengatakan, tingkat turnover tenaga kerja di sektor HR tahun ini merupakan yang tertinggi sejak 2004.

“Kelebihan tenaga kerja dan pemutusan hubungan kerja selalu meningkat di masa resesi. Namun, pengunduran diri secara sukarela juga naik, yang sebenarnya mungkin tidak terduga. Biasanya pada situasi sulit, orang cenderung mempertahankan posisinya,” ujar dia.

Director of Consulting pada lembaga retensi TalentDrain Gordon Barker kepada Personnel Today mengungkapkan, staf di bidang HR, yang sebagian besar dihadapkan pada keharusan untuk mem-PHK karyawan dan mmebuat keputusan-keputusan sulit lainnya selama 2009, telah mempertaruhkan karier jangka panjang mereka dalam profesi tersebut.

“Karyawan di sektor-sektor lain akan menyikapi resesi dengan melihat bigger picture-nya dan mempertimbangkan pilihan-pilihan. Tapi, staf di bidang HR mungkin berpikir bahwa kini saatnya untuk cut and run karena aspek-aspek yang tidak menyenangkan dari pekerjaan mereka,” analisis dia.

Director of Reward Services pada Institute for Employment Studies Duncan Brown mengatakan, separo dari orang HR yang mengundurkan diri itu kemungkinan akan meninggalkan profesinya selamanya. Namun, sebagian lainnya cenderung untuk mencari pekerjaan yang sama di tempat lain yang lebih baik.

“Banyak orang HR telah melewati tahun-tahun yang sulit dan mereka berpikir, apakah aku ingin melakukan ini? Tapi, banyak juga yang masih dicari karena keterampilan dan pengalaman mereka dalam restrukturisasi,” papar dia.

Tags: