Angka Pengangguran Turun Tipis

Angka pengangguran di Indonesia per Agustus 2008 dilaporkan turun tipis (sekitar 33 ribu orang) dibandingkan dengan Februari tahun yang sama, menjadi 9, 39 juta orang. Kendati demikian, kualitas penurunan angka pengangguran belum cukup baik. Deputi Kepala Badan PS Bidang Statistik Sosial Arizal Ahnaf dalam keterangannya di Jakarta, Senin (5/1/09) mengungkapkan, perningkatan lapangan kerja terbanyak terjadi pada jasa kemasyarakatan, terutama pembantu rumah tangga, pekerja bangunan dan petugas kebersihan.

Artinya, jumlah penduduk yang bekerja bertambah, dilaporkan sekitar 502 ribu orang, dari angka pada Februari 2008, menjadi 102,55 juta orang pada Agustus 2008. Pada sisi lain, sektor pertanian mengalami penurunan tenaga kerja sebanyak 1,36 juta meskipun lapangan kerja pada sektor ini tetap yang terbesar, yakni 41,33 juta orang. Sedangkan, penduduk yang bekerja sebagai buruh atau karyawan sebanyak 28,18 juta; berusaha dibantu buruh tidak tetap sebanyak 21,77 juta; dan, berusaha sendiri 20,92 juta.

Pekerja dengan pendidkan SD ke bawah dilaporkan turun sebanyak 1,04 juta orang dalam setahun terakhir, namun jumlahnya masih tetap mendominasi. Pengangguran tingkat lulusan SD ke bawah juga lebih sedikit daripada lulusan SLTA ke atas. “Kebanyakan penurunan tingkat tenaga kerja itu justru lebih banyak di tingkat SLTA, sementara yang lulusan SD ke bawah masih bisa bertahan,” ujar Ahnaf.

Upah Pekerja Industri Turun

Lebih jauh BPS melaporkan, rata-rata upah pekerja industri pada triwulan III-2008 dibandingkan triwulan II-2008 secara nominal turun 8,74 persen. Secara riil, upah buruh industri pada periode yang sama turun sebesar 11,30 persen. Deputi Kepala BPS Ali Rosidi dalam kesempatan yang sama menjelaskan, hasil survei itu didapat BPS berdasarkan sampel kegiatan industri formal.

”Tidak semua perusahaan formal menjadikan upah minimum regional sebagai acuan. Ada pula peningkatan biaya buruh bagi perusahaan yang tidak tecermin pada penghasilan buruh, misalnya fasilitas kesehatan atau transportasi,” ujar Ali. Pada triwulan III-2008, upah nominal buruh industri rata-rata 1.095.790, sedangkan pada triwulan II-2008 sebesar Rp 1.200.772. Namun, jika dibandingkan triwulan III-2007 terjadi kenaikan upah nominal rata-rata 7,89 persen, dengan upah riil pada periode yang sama merosot 4,93 persen.

Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (K-SBSI) Rekson Silaban seperti dikutip Kompas mengatakan, penurunan rata-rata upah nominal merupakan dampak makin banyaknya pekerja kontrak. Kondisi ini tecermin karena BPS menghitung upah nominal rata-rata pekerja formal tanpa membedakan status hubungan kerja.

”Begitu diambil rata-rata, upah nominal pekerja industri turun. Ini memperlihatkan efek negatif sistem kerja kontrak karena mereka dipekerjakan dengan tingkat kesejahteraan dan jaminan yang tidak standar,” kata Rekson. Industri-industri padat karya, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), elektronik, serta otomotif, kini cenderung menambah jumlah pekerja kontrak. Secara bertahap mereka mengurangi pekerja tetap untuk menekan biaya.

Tags: