Alfamart Sukses Eksekusi Strategi Berkat Komunikasi Hingga Level Bawah

pemenang-SPEx2-Award-2012

Alfamart, salah satu leader minimarket di Indonesia telah membuktikan keberhasilannya dalam mengeksekusi strategi. Belum lama ini, perusahaan tersebut memenangkan penghargaan Strategy-into-Performance Focus Organization-Excellence di bidang Retail industry. Penghargaan ini digelar oleh GML konsultan strategi dan manajemen.

Managing Director Alfamart Hans Prawira mengemukakan, strategi apapun yang diterapkan perusahaan harus bisa dikomunikasikan secara merata. Dengan kata lain harus terdengar sampai level bawah organisasi. Itulah salah satu kunci yang membuat Alfamart berhasil dalam mengeksekusi strateginya.

“Komunikasi itu penting, maka pada saat kita mempunyai pembahasan, tidak akan efektif jika hal itu tidak sampai ke semua level,” ujar Hans.

Untuk itu Alfamart rutin melakukan meeting tahunan, bulanan hingga meeting khusus guna menyampaikan strategi perusahaan kepada karyawannya. Kini perusahaan yang baru berdiri hampir 13 tahun itu telah mempunyai 77 ribu karyawan dengan jumlah 400 supplier aktif dan melayani kurang lebih 2 juta konsumen per hari.

Menjamurnya minimarket seperti Alfamart kerap menimbulkan benturan di kalangan toko tradisional sekitar mereka, hal ini tentu menjadi perhatian management Alfamart untuk tetap mengolah bisnis secara berkesinambungan.

Walau terkesan klise, namun management Alfamart sendiri mengaku giat mengajak toko-toko tradisional untuk berkembang bersama. “Kami ingin memberdayakan usaha kecil menengah, dengan meng-upgrade toko-toko tradisional agar mereka mendapat pasokan yang baik,” ujar Hans.

Untuk itu Alfamart membangun komunitas yang disebut sebagai community store, dimana misinya adalah “agar masyarakat sekitar bisa merasakan kehadiran kami di lingkungan mereka,” demikian mengutip Hans.

Meski begitu Hans mengaku masih ada 2 kendala yang mengikuti penerapan franchise untuk warung atau toko. Yang pertama adalah pajak. Permasalahan pajak tidak disinggung banyak oleh Hans, menurutnya hal itu sudah menjadi permasalahan klasik pebisnis. Faktor kedua yang menjadi perhatian Hans, yaitu mindset.

Hans mengakui penerapan pengolahan toko dengan sistem yang sistematis masih belum bisa diterima sepenuhnya oleh wirausaha kebanyakan. “Ini toko saya, suka-suka saya mengolahnya bagaimana,” imbuh Hang menirukan pemilik toko yang keberatan untuk mengikuti aturan baku dari franchise.

Padahal menurutnya untuk mendapatkan sistem yang benar, pemilik toko harus mau mengikuti semua prosedurnya. “Kalau mau franchise, you have to follow the SOP,” ujar Hans. Pemilik toko kadang dengan mudah mengubah pola kerja seperti jam operasional buka toko atau pencatatan keuangan, hanya karena sistem kekeluargaan dan kurangnya disiplin dari pemilik toko.

Kendati demikian, Alfamart tetap konsisten mengembangkan misinya untuk membangun jiwa wirausaha kepada masyarakat termasuk karyawan. “Ada beberapa karyawan kami yang sudah menjadi mitra bukan lagi karyawan,” ujar Hans.

Alfamart menyadari ujung tombak perusahaan adalah human capital, karyawan yang terlatih yang dibutuhkan perusahaan. “Untuk itu kita sedang menyiapkan corporate university, yaitu di mana kita ingin mendevelop karyawan kami agar dapat mengembangkan bisnis retail dengan strategis,” ujar Hans.

Nantinya Corporate University itu juga bertujuan untuk mencetak kepala-kepala toko yang bisa mengerti bisnis retail secara keseluruhan, karena Hans mengaku masih sulit mencari lulusan retail di Indonesia.

Walaupun skill dan knowledge sangat dibutuhkan untuk pengembangan bisnis, namun yang menjadi pedoman Alfamart adalah nilai-nilai yang dianut. “Kalau kita mau besar, tidak akan bisa tanpa value, banyak karyawan dari luar yang membawa budaya masing-masing, tapi kita akan bilang dulu, tolong lepas dulu budayanya, karena kita tidak mau menjadi gado-gado. Kita mau mempunyai budaya yang sama,” tegas Hans. (*/@nurulmelisa)

Tags: , ,