75% CEO Sekarang Lebih Percaya Social Media

Media sosial dan aplikasi mobile kini telah meresap hampir setiap bagian dari lanskap bisnis, tetapi satu area di mana mereka memiliki efek yang mendalam, ternyata di divisi HR. Kok bisa?

Sebagai tempat kerja fisik yang lebih terfragmentasi, komunitas online melalui perangkat mobile device kini menawarkan kesempatan untuk bekerja jarak jauh dan jaringan sosial menjadi alat yang semakin penting untuk melibatkan karyawan dalam meningkatkan produktivitas. Perusahaan yang berpikiran maju, hubungan karyawan melalui social media dan interaksi secara online bisa dimulai dari awal proses rekrutmen untuk menarik top talent. Platform ini selain memiliki peran yang jelas untuk menarik top talent ternyata bisa pula mempertahankan human capital untuk mengintensifkan para talent dalam organisasi dalam memasuki fase baru, pertumbuhan.

Penelitian terbaru dari Salesforce.com mengungkapkan 75% dari CEO sekarang mengakui kekuatan social media untuk menarik dan mempertahankan top talent, memungkinkan komunikasi dan keterlibatan karyawan terjalin lebih intens. Rekrutmen social media menjadi satu area yang memberikan pengalaman dalam bertumbuh, yang menjadikan para talent di dalamnya menjadi sebuah workforce yang lebih cerdas dan techies.

James Swift, director and founder of Beyond Interactive, menjelaskan, “Banyak perusahaan mulai berpikir bahwa dengan menggunakan Twitter, perusahaan bisa memanfaatkan strategi social media untuk menjalin dialog dua arah dan berbicara kepada kandidat secara lebih transparan dan membiarkan mereka tahu bagaimana rasanya bekerja di perusahaan.”

Yang jelas, departemen HR bisa melakukan pengetatan anggaran, di mana rekrutmen melalui social media dapat menghemat biaya secara signifikan. Seperti ditulis HR Magazine, Jon Hull, head of resourcing RS Components, mengungkapkan bahwa 35 dari 51 dari posisi senior yang ditawarkan perusahaan diisi melalui jalur social media. Para karyawan ini direkrut dengan hanya menghabiskan tak kurang dari £ 714 cost per hire, jauh ketimbang £ 7.500 jika mereka menggunakan saluran tradisional.

RS awalnya dimulai dengan sebuah tes kecil dengan LinkedIn, dan sejak menandatangani komitmen jangka panjang yang menggabungkan keuntungan dari jaringan sosial dengan tools sendiri milik perusahaan. “Social media rata-rata menghemat waktu empat jam per calon manajer lini yang terlibat dan lebih dari tujuh jam untuk in-house recruitment,” tambah Jon lagi.

Hal lain yang menarik terkait aplikasi mobile, adalah fakta bahwa penjualan smartphone telah tumbuh fenomenal selama 12 sampai 18 bulan terakhir, dan angka ini terus bertambah dengan tawaran kemudahan mengakses internet di mana saja, tidak peduli di mana lokasi mereka. Paul Daley, director of HR consulting and services at Ochre House, memperkirakan penggunaan smartphone akan mengubah lanskap perekrutan. Ia pun menjelaskan alasannya, “Ini jauh lebih user-friendly daripada harus benar-benar aktif duduk di depan desktop untuk mencari pekerjaan”

Platform ini dipercaya sangat efektif untuk profesional bisnis yang melakukan banyak perjalanan dan tidak aktif mencari pekerjaan, dan mereka sangat respek serta menghargai kenyamanan beraktivitas secara mobile. Lebih banyak perusahaan juga mulai menggunakan aplikasi mobile sebagai bagian dari keseluruhan strategi training and development, dengan fitur utama yang digambarkan sebagai “ketepatan waktu, kedekatan dan fleksibilitas” oleh David Mallon, analis utama, Bersin & Associates.

Contoh pembelajaran bergerak ini bisa dilihat seperti munculnya aplikasi m-Learning. Salah satunya m-Learning: Mobile Learning is Finally Going Mainstream – And It Is Bigger Than You Might Think, studi di Coca-Cola, di mana aplikasi ini menggunakan social media dan bisa diakses secara mobile untuk lebih memahami bagaimana konsumen berinteraksi dengan Web 2.0 dan meningkatkan pemasaran mereka ke segmen yang kini sering disebut sebagai the younger, tech-savvy generation. Contoh lain ditunjukkan oleh Accenture yang bereksperimen dengan menggunakan platform uPodcast, yang memungkinkan tokoh-tokoh berpengaruh dalam organisasi untuk berbagi pengetahuan mereka melalui podcast.

Josh Bersin, chief executive officer and president, Bersin & Associates, menyimpulkan perusahaan hari ini belajar bahwa fungsi risiko menjadi sangat relevan jika mereka tidak cepat merespon kekuatan teknologi mobile baru untuk memperdalam dan mempercepat berbagi informasi di seluruh organisasi, dan juga memenuhi kebutuhan akan perubahan dan harapan bagi terciptanya proses pembelajaran bagi generasi baru dan geografi karyawan dalam organsisasi.

Tags: , ,