70.000 Karyawan Tekstil Terancam PHK

Korban-korban krisis global terus berjatuhan. Tak terkecuali di Indonesia. Sekitar 70 ribu karyawan industri tekstil di provinsi Jawa Barat terancam terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada tahun depan. Demikian diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Daerah Jawa Barat Ade Sudrajat di Bandung, Rabu (22/10/08).

Krisis keuangan yang melanda dunia saat ini telah membuat beban perusahaan semakin berat. ”Pengusaha terpaksa melakukan berbagai efisiensi, termasuk perampingan jumlah tenaga kerja. Salah satunya karena kegiatan produksi akan dikurangi, bahkan ada yang dihentikan,” ujar dia seperti dikutip Kompas.Ade memperkirakan kondisi itu bisa semakin parah jika krisis di Amerika Serikat dan Eropa tak tertolong. Konsekuensi PHK terpaksa dilakukan, atau setidaknya sebagian besar karyawan dirumahkan sementara.

Jawa Barat (Jabar) merupakan sentra industri tekstil utama di Indonesia dengan lebih dari 700 pabrik tekstil yang menyerap sekitar 700.000 tenaga kerja. Dampak krisis di AS terasa karena ekspor terbesar tekstil dan produk tekstil (TPT) Jabar disalurkan ke negara itu. Dikatakan, pilihan untuk mencari pasar lain di luar AS memang dimungkinkan namun belum tentu bisa menyelamatkan industri TPT. Sebenarnya, pada tahun ini ekspor TPT Jabar ke AS naik sebesar 2 persen.

Tapi, pertumbuhan itu terancam setelah krisis terjadi. Turunnya daya beli masyarakat AS membuat pembelian sandang di negara itu berkurang. Ketua Perhimpunan Pengusaha Tekstil Majalaya, Bandung Deden Suwega menyatakan, mata pencaharian sekitar 50.000 perajin tekstil dari sekitar 150 industri kecil dan menengah (IKM) di wilayahnya juga terancam. Melonjaknya harga bahan baku impor akibat anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS membuat biaya produksi membengkak hingga 20 persen.”Industri tekstil termasuk padat karya. Bisa dibayangkan jika kondisi krisis tak segera diatasi, pengangguran akan bertambah dan angka kemiskinan meningkat,” tutur Deden.

Diliburkan

Sejumlah pengusaha keramik di Kabupaten Purwakarta bahkan telah meliburkan karyawan dan tidak tahu kapan akan mempekerjakan mereka kembali. Menurut Ketua Pokja Klaster Keramik Plered Eman Sulaeman, lesunya permintaan ekspor dan pasar domestik membuat pengusaha tak tahu kapan bisa mempekerjakan karyawan kembali.
Ia menambahkan, dari 15 pengusaha yang biasa membuat produk pesanan eksportir, kini hanya enam pengusaha yang masih berproduksi.

Sementara, dari Palembang, Sumatera Selatan dilaporkan, kerajinan songket kini juga terkena dampak krisis finansial global. Sejumlah gerai produksi dan penjualan songket di kota itu, setidaknya dalam sepekan ini, telah menghentikan produksi tenun songket karena stok berlebih. Itu terjadi karena sebagian pembeli luar negeri menghentikan pembelian sejak berlangsungnya krisis global.

Tags: