7% Perusahaan Pecat Karyawan Gara-Gara Social Media

Social media kini semakin merepotkan perusahaan. Bukan hanya soal penurunan produktifitas karyawan, tetapi juga bocornya informasi penting perusahaan ke publik via jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Sebuah riset yang dilakukan Proofpoint menunjukkan, karyawan semakin sembrono menggunakan jejaring sosial. Dan ini sangat mencemaskan manajemen perusahaan.

Survei yang dilakukan perusahaan keamanan email berbasis di Kalifornia, AS itu, terhadap 261 petinggi IT perusahaan yang memiliki lebih dari seribu karyawan menunjukkan betapa khawatirnya perusahaan terhadap media sosial ini. Bagaimana tidak, jika 20 persen perusahaan mengaku bahwa informasi rahasia mereka tersebar via media sosial gara-gara keteledoran karyawannya.Gara-gara itu, 20 persen mendisiplinkan karyawannya karena melanggar peraturan perusahaan terkait media sosial. Bahkan tujuh persen diantaranya telah memecat karyawannya.

Dalam hal kebocoran informasi rahasia perusahaan, survei menunjukkan, Facebook dan LinkedIn dianggap sebagai yang media sosial yang paling tinggi risikonya (53 persen). Meski demikian, perusahaan tidak serta merta menutup akses Facebook dan LinkedIn bagi karyawannya. Hanya 53 persen perusahaan yang melarang karyawannya mengakses Facebook dan 31 persen melarang akses LinkedIn.

Bagaimana dengan microblogging Twitter? Tak beda jauh dengan Facebook, 51 persen perusahaan yang diteliti menganggapnya sebagai sumber kebocoran informasi rahasia dan sensitif perusahaan. Bahkan 17 persen diantaranya kini sedang melakukan investigasi tentang penyebaran rahasia perusaan via Twitter oleh karyawannya sendiri.

Mengingat jejaring sosial itu fenomena global, maka masalah serupa juga dihadapi oleh banyak perusahaan di Indonesia. Sayangnya, amat sedikit perusahaan Indonesia yang sudah memiliki social media policy.

Tags: