6 Universitas Siapkan Mata Kuliah Wirausaha

Dorongan untuk berwirausaha terus didengungkan ke tengah masyarakat dan tak henti dicarikan jalannya. Enam perguruan tinggi siap menambahkan kurikulum wirausaha. Dengan tambahan mata kuliah tersebut diharapkan jumlah entepreneur akan melonjak menjadi 4 juta orang.

Demikian disampaikan Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) Sudjarwadi dalam perhelatan “Wirausaha Mandiri” di Jakarta Convention Center, Senayan, Jumat (22/1/2010). Diungkapkan, saat ini jumlah wirausaha hanya 400 ribu orang. Dengan masuknya wirausaha sebagai mata kuliah di universitas, jumlah itu diharapkan naik 10 kali lipat.

Ditambahkannya, lulusan perguruan tinggi ke depan tidak hanya berpikir untuk mencari kerja, namun menciptakan peluang dan menghasilkan pekerjaan. Kurikulum telah disusun dan siap diajarkan kepada mahasiswa.

Kurikulum telah disusun oleh tim yang terdiri dari 6 perguruan tinggi, yakni UI, IPB, Unpad, ITB, UGM dan ITS. Di 6 perguruan tinggi tersebut pulalah kurikulum wirausaha akan diajarkan. Kurikulum akan diajarkan dalam berbagai bentuk di antaranya softskill yang meliputi etika berbisnis. Selain itu juga keterampilan teknis.

Direktur Bank Mandiri Budi Gunadi menegaskan, siapa saja bisa jadi enterpreneur. “(Mahasiswa) Teknik Nuklir juga bisa, yang saat ini dapat mengembangkan teknologi farmasi,” ujar dia.

Butuh Banyak

Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo mengatakan, Indonesia membutuhkan lebih banyak wirausaha agar pengangguran yang ada saat ini bisa berkurang. Dengan memanfaatkan ancaman yang dihadapi menjadi tantangan, para lulusan perguruan tinggi dapat bekerja sacara mandiri.

Jumlah pengangguran di Indonesia saat ini mencapai 8,9 juta orang dari jumlah angkatan kerja 80 juta jiwa. “Kita harus lebih banyak yang berwirausaha,” kata Agus seraya menjelaskan, untuk menciptakan wirausaha, perlu jiwa dan karakteristik yang berani mengambil risiko yang terkalkulasi. Selain, tentu saja, inovasi dan kreativitas yang tinggi.

Sudamek, wirausaha yang sukses dengan Garuda Food dihadirkan dalam acara itu sebagai contoh entrepreneur yang sukses. Menurut dia, yang tak kalah penting dalam memulai wirausaha adalah eksekusi dan networking.

“Harus eksekusi. Punya keahlian, tapi tidak cukup. Juga networking, untuk itu butuh commercial partner. Jika butuh modal atau uang, bisa mengundang partner. Kalau pemula bisa orang tua atau mertua,” ujar dia