5 Kesalahan Umum dalam Praktik “Teleworking”

Program-program teleworking atau pun remote working menjadi populer menyusul kondisi bisnis global yang tertekan oleh kenaikan harga BBM dan krisis ekonomi. Banyak perusahaan mulai memberikan opsi kepada karyawan untuk menyelesaian pekerjaan mereka tanpa harus hadir di kantor. Anda mulai tertarik untuk mencobanya juga? Bagus, tapi berhati-hatilah dengan kesalahan umum yang sering terjadi.

Sebuah asosiasi pengusaha di Amerika, Capital Associated Industries (CAI) mengingatkan bahwa remote working memerlukan pemahaman yang lebih dari sekedar mengizinkan karyawan bekerja di luar kantor. Faktanya, jika Anda memang serius hendak mempraktikkannya, diperlukan perencanaan yang saksama dan pelatihan baik untuk karyawan dan para manajer.

Menurut VP sebuah lembaga spesialis telecommuting Suite Commute Brandong Dempsey, yang melakukan riset untuk CAI, ada lima kesalahan umum yang dilakukan perusahaan dalam menerapkan program teleworking maupun remote working. “Banyak organisasi yang terburu-buru melakukannya tanpa menyiapkan kebijakan dan prosedur yang konkret terlebih dahulu,” ujar dia menyebutkan kesalahan yang pertama.

Kesalahan kedua, perusahaan cenderung terlalu mengandalkan semua hal pada teknologi, sehingga tak berpikir panjang sebelum “mempersenjatai” karyawan dengan perangkat canggih terbaru padahal belum tentu relevan atau mendesak dibutuhkan. “Perlu dilihat dulu dengan detail pekerjaan masing-masing karyawan, dan belilah teknologi yang memang mendukung pekerjaan tersebut,” saran Dempsey.

“Kadang infrastruktur IT yang sudah ada bisa dimanfaatkan tanpa harus membeli software maupun hardware yang baru,” tambah dia. Kesalahan ketiga bersumber pada kegagalan melatih para manajer. Dempsey menekankan, perusahaan perlu menyadari bahwa mengelola karyawan atau anggota tim dari jarak jauh membutuhkan keterampilan manajemen yang berbeda, khususnya mengenai komunikasi dan cara menjaga hubungan tanpa tatap muka.

Keempat, perusahaan sering gagal menemukan kesesuaian antara inisiatif kerja jarak jauh yang diambil dengan model bisnis perusahaan. “Di sini, perusahaan harus bisa memetakan penggerak-penggerak bisnisnya, dan mendefinisikan tujuan yang ingin mereka capai dengan mengimplementasikan opsi virtual work sebelum menuangkannya ke dalam program-program telecommuniting,” ujar Dempsey.

Terakhir, kegagalan yang umum dijumpai dalam pelaksanaan program kerja jarak jauh adalah tidak adanya “pilot project”. Dempsey mencontohkan begini: kalau perusahaan punya 100 karyawan, perlu adanya uji coba untuk mengizinkan misalnya 10 atau 15 dulu untuk bekerja dari luar kantor.

Tags: