4 Tips IBM untuk Smarter Workforce

photo

Sumber daya manusia (SDM) adalah satu faktor penentu kesuksesan dalam mewujudkan tujuan atau target perusahaan. Dan penting bagi departemen SDM untuk mengadopsi berbagai strategi untuk membuat karyawan perusahaan menjadi lebih cerdas.

Dalam seminar bertajuk “IBM LeadershipConnect 2013” yang diselenggarakan oleh IBM, Timothy Birdsall, Direktur dari IBM Collaboration Solution Asia Pacific Growth Market Unit, mengungkapkan bahwa terdapat beberapa kunci sukses dalam menciptakan smarter workforce.

1. Brand and culture, not just recruiting

Rekrutmen adalah pintu masuk utama bagi seorang kandidat untuk memasuki lingkungan kerja sebuah perusahaan. Itulah kenapa seorang praktisi HR harus menyematkan filter yang memang mampu menyaring kandidat sesuai kebutuhan. Budaya perusahaan adalah salah satu filter tersebut. Kandidat yang kita rekrut setidaknya harus sesuai dengan budaya yang kita anut. Namun, bukan berarti sebuah budaya harus bersifat statis, karena zaman berkembang, tren dunia HR juga berubah dan budaya perusahaan juga perlu bertransformasi mengikuti perubahan tren tersebut.

2. Continuous learning process, not just training

Training memang penting untuk employee development. Akan tetapi, training saja belum cukup, terutama karena training biasanya diadakan hanya beberapa kali dalam setahun. Dalam proses kerja sehari-hari, seorang karyawan dapat terus belajar baik dari kesadaran diri sendiri maupun dengan bimbingan manajer. Contoh-contoh aktivitas continuous learning antara lain dengan on-job training, pengenalan dengan alat atau sistem baru maupun skill development yang dipaparkan manajer kepada bawahannya.

3. Building Passion, not just engagement

Setiap praktisi HR perlu mengenal keunggulan dari masing-masing karyawan. Kenali di bidang apakah mereka mampu berkarya dengan optimal karena passion yang mereka miliki.

Timothy mengungkapkan, “apapun itu (keunggulannya –red), seorang praktisi HR perlu untuk mengenali. Bahkan misalkan keunggulannya adalah bermain basket atau rugby. Dari situ, praktisi HR akan mendapatkan gambaran untuk menempatkannya di posisi yang tepat.”

4. Use technology and data, not just belief

Dalam mengelola karyawan, departemen sumber daya manusia juga harus dibekali dengan teknologi dan data. Keduanya menjadi dasar bagi praktisi SDM untuk menyusun kebijakan atau memberikan program-program kepada karyawan. Jika kebijakan HR hanya berdasar pada apa yang dianggap benar oleh mayoritas orang, performa dari karyawan akan sulit diukur dan dibuktikan efektivitasnya.

Keempat hal tersebut akan membantu praktisi SDM untuk menghadapi tantangan dunia HR yang semakin komplek. Di tahun 2013 ini, Timothy menjabarkan bahwa beberapa tren yang akan terjadi di dunia HR seperti adanya diversity, perbedaan gender, etnis, talent gap, employee retention dan pentingnya kolaborasi yang harmonis antara manajer dan karyawan. Orang-orang HR pun harus lebih fokus pada area tersebut dalam menangani karyawan sebagai aset paling berharga dari perusahaan. (*/@yunitew)

Tags: