4 Tantangan Praktisi HR di 2013

Bila dulu praktisi HR hanya cukup memerhatikan karyawannya sebagai sumber terbesar untuk unggul, kini kontrol terhadap konten yang disebarkan karyawan mengenai perusahaan juga tidak kalah penting. Social media telah sukses membuat “kacau” para praktisi HR.

Selain social media, ada 3 topik lain yang menjadi tantangan HR saat ini. Kami mendapat kesempatan untuk menanyakan langsung kepada konsultan senior Konsultankarir.com Ardiningtyas Pitaloka. Menurutnya, berikut 4 tantangan yang bisa dilihat dari kaca mata HR:

1. Social Media

Menurut Ardiningtyas kini pengguna social media sedikit demi sedikit mulai memahami etika dalam dunia digital. Sehingga tugas praktisi HR bukan hanya menyiasati karyawan agar fokus bekerja dan tidak bermain social media, namun bagaimana HR harus mengakui bahwa informasi bertebaran di social media. “Informasi tentang pekerjaan, kondisi kerja, hingga pergerakan benefit telah bertebaran, meskipun hanya secara implisit,” ujarnya.

Ardiningtyas menambahkan bentuk pengembangan yang bisa dilakukan praktisi HR di antaranya menumbuhkan awareness. Kebahagiaan karyawan adalah salah satu kunci suksesnya social media di perusahaan tersebut. Mengapa? Karena dengan mempunyai manajemen HR yang baik maka otomatis output yang disampaikan karyawan adalah hal baik. “Karyawan bisa men-tweet mendapatkan bonus, paket jalan-jalan ke luar negeri, dan lain-lain. Bukankah ini menjadi semacam ‘iklan terselubung’ yang memang mulai digarap oleh beberapa perusahaan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan kini perusahaan mulai menyadari dan berusaha mengambil manfaat dari kekuatan social media. “Perkembangan social media ini juga didukung dengan perkembangan teknologi yang semakin kompetitif,” tutur Tyas.

2. Talent Retaining

Perkembangan social media ini juga yang mendorong HR untuk mengikuti dinamika melalui media yang sama. “Sebagian besar HR masih sibuk dengan pencarian kandidat yang tepat, namun tugas mempertahankan talent perlu dikelola secara serius,”ujar Tyas. Ia menambahkan berpindah kerja semakin biasa, terutama untuk generasi muda. Untuk itu tantangan praktisi HR sangat jelas, bagaimana mempertahankan talent di tengah informasi yang mengalir begitu deras.

3. Interaksi Antar Generasi

Menurut Ardiningtyas generasi Babyboomers mulai meninggalkan dunia kerja, dan kini generasi Y mulai memasukinya. Dan kita tahu karakter ketiga generasi (baby boomers, X, Y) berbeda-beda. “Generasi X lebih menekankan usaha mandiri secara mendalam (digging), sementara generasi Y yang tumbuh seiring dengan dunia digital, cenderung bergaya surfing, karena semua informasi ‘seolah’ tersedia,” ujarnya.

Tyas menambahkan pola mencari informasi Generasi Y semudah jemari menekan kotak-kotak di telepon genggam, dan mereka membutuhkan jawaban langsung. “Pola tersebut yang seringkali juga diterapkan di dunia nyata, mereka akan santai melemparkan pertanyaan ke rekan kerja termasuk atasan. Bagi generasi Y, mereka cenderung berpikir, ‘kalau tidak tahu, tanya saja, gitu aja repot’, dan ini terkadang diterapkan hingga hal kecil,”ujarnya. Sementara generasi X tumbuh dengan mental sebaliknya, berusaha untuk sesedikit mungkin bertanya ke atasan kecuali sangat penting. Perbedaan tersebut dapat memancing kesalahpahaman, di mana generasi Y dapat dipandang kurang memiliki mental baja.

4. Pemahaman Passion dan Karir

Menurut Tyas dalam 2 tahun terakhir ini, semakin banyak generasi muda yang berusaha memahami dirinya dan mencari karir yang tepat. Mereka begitu jelas menggambarkan jenis aktivitas, dan lingkungan kerja yang diinginkan atau membuat nyaman dalam bekerja. “Curahan hati tersebut mestinya menjadi peluang bagi HR, karena pada umumnya generasi Y (dan sebagian generasi X) terbuka dalam hal ini. Mereka mulai mencari passion diri sendiri, dan tidak jarang mempertanyakan pekerjaannya sekarang,” ujar Tyas.

Bahkan mereka juga mulai mencari informasi yang lebih valid tentang diri sendiri dengan mengikuti assessment karir untuk mengetahui kekuatan dan potensi lain. Sayangnya hal ini belum disikapi penuh oleh banyak perushaan. “Kami melihat HR masih belum mengakomodir keingintahuan karyawan, sehingga yang muncul justru konflik. Memang ini terkait dengan biaya proses assessment, sehingga hanya beberapa perusahaan yang menerapkan pemberian feedback individual dalam proses mapping atau evaluasi potensi karyawan,”pungkas Tyas.

 

Apa Profesi favorit di 2013 dan hal bombastis apa yang akan terjadi di 2013 dalam dunia HR, Anda bisa mengetahuinya dalam liputan kami selanjutnya.

Tags: , , ,