4 Jurus Maut Merekrut Gen Y

Antara mitos dan fakta, kehadiran Generasi Y di dunia kerja saat ini tak henti-hentinya menjadi pembicaraan. Menurut survei terbaru Robert Half International, hampir satu dari dua eksekutif bisnis peduli terhadap pergeseran tenaga kerja seiring dengan mulai mundurnya generasi baby boomer.

Apa yang bisa dilakukan oleh jajaran pimpinan HR untuk “menerjemahkan” kepedulian para eksekutif tersebut? Mulailah merekrut generasi baru angkatan kerja tersebut! Mereka para pekerja keras, penuh antusias namun sangat menyukai petualangan tidak mau mapan di satu perusahaan/pekerjaan dalam waktu lama.

Inilah empat jurus maut yang dipraktikkan oleh McDonald’s, Google hingga Harvard dalam menjaring talent-talent muda terbaik:

1. Pitch-Perfect Campus Visits: Get your millennial employees out in front of their peers
Dulu, merekrut melalui lembaga pendidikan biasanya harus dengan menghadirkan eksekutif senior yang terkenal dan berpengaruh, untuk menarik minat calon lulusan. Tapi, “Generasi baru sekarang lebih terpengaruh pada peer-nya,” ujar Direktur Perekrutan pada Haas School of Business University of California Lisa Feldman. “Mereka tidak terlalu peduli dengan orang dari generasi tua yang memiliki nilai-nilai yang berbeda.”
Oleh karenanya, saran Feldman, kirimlah orang muda yang memahami generasi milenial, yang baru meniti karir sehingga bisa menjelaskan segala sesuatunya sesuai aspirasi calon lulusan. Presentasi sebaiknya tidak buang-buang waktu dengan mengungkapkan cerita lama tentang sukses perusahaan. Melainkan, lebih pada posisi bisnis Anda dalam isu-isu filantropi dan tanggung jawab sosial. Kebijakan perusahaan mengenai jadwal kerja yang fleksibel dan gaya hidup di tempat kerja juga merupakan tema penting yang perlu disampaikan. Kendati demikian, Feldman tetap menyarankan bahwa ada seorang eksekutif perusahaan yang ikut hadir, untuk mendampingi sesi tanya-jawab dan menutup presentasi. “Sebaiknya level vice president.”

2. Flashier Presentations: Ditch PowerPoint for Flash
Presentasi dengan PowerPoint biasa sudah tidak menarik lagi bagi generasi yang akrab dengan YouTube. Lengkapi presentasi dengan Flash, tampilkan website-website yang dinamis dan. “Beri mereka “pertunjukkan” yang kasual dan bukan formal,” saran Direktur Perekrutan pada perusahaan konsultan manajemen Katzenbach Partners, Manhattan Kristen Clemmer. Cobalah putar video atau film pendek mengenai suka-duka memasuki dunia kerja.

3. Easy Online Job Applications: Get rid of paper-based apps
Selain tentu saja menghemat kertas, memberi fasilitas bagi pelamar kerja untuk mengirimkan aplikasinya secara online juga sesuai dengan “jiwa” Gen Y itu sendiri. Mereka ingin bisa mengirimkan lamaran kapan saja, tanpa harus berdandan rapi-formal dan datang ke kantor. Cukup pergi ke warnet dekat rumah, dan semuanya beres.
McDonald’s memberi kemudahan tersebut sejak 2007, dan hasilnya: jumlah pelamar langsung meningkat 100%.

4. Work That Matters: Connect employees to issues they care about
Gaji tinggi, tidak diragukan, merupakan hal penting yang paling dicari oleh pelamar kerja Gen Y. Namun, selain itu, bukan rahasia lagi bahwa mereka juga mengejar benefit lain yang sifatnya intangible. “Seorang mahasiswa pernah bilang pada saya, saya tidak terllau mengejar karir, tapi bagaimana saya bisa membuat setiap hari kerja bermakna,” ujar Direktur Marketing program MBA pada Stanford Graduate School of Business Lisa Giannangeli.

Apa yang disebut “kerja yang bermakna” tentu bisa diartikan banyak. Apa yang dilakukan Google bisa menjadi contoh. Di Google, karyawan diberi kebebasan yang luas untuk berkreasi, juga pengalaman dan kesempatan baru yang nyaris tidak terbatas. Sehingga setiap karyawan di Google punya tujuan. “Saya ingin mendapatkan keterampilan yang bisa membuat saya nantinya sukses sebagai entreprenuer yang berdiri sendiri,” demikian pengakuan seorang manajer produk di Google, Dan Siroker yang berusia 24 tahun. Jika di perusahaan lain umumnya karyawan diberi training dulu baru bisa naik jenjang, maka Google memberi kepercayaan pada tenaga-tenaga muda yang baru direkrut untuk menduduki posisi-posisi manajemen sambil memberi mereka training selama 2 tahun.

Tags: ,