10% Pekerja Terancam PHK pada 2009

Kondisi pengusaha di Tanah Air makin sulit sejak krisis keuangan global menerpa dan menyebabkan order dari luar negeri terus menurun. Jika kondisi seperti itu berlanjut hingga tahun depan, maka diperkirakan PHK massal tak akan terhindarkan. Setidaknya 10% dari total pekerja saat ini akan kehilangan pekerjaan. Bukannya menakut-nakuti, tapi begitulah situasi dunia usaha saat ini yang dilihat oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi.

“Penurunan permintaan dari luar negeri pasti terjadi. Kalau pengusaha tidak dapat order terus-menerus, 10% pekerja bisa dirumahkan tahun depan,” ujar dia di sela Rakornas Kadin Indonesia Bidang Kerjasama Ekonomi Internasional di Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (5/11/2008).

Menurut Sofjan, PHK paling banyak akan terjadi di sektor yang labour intensif seperti garmen, tekstil, eletronik dan industri sepatu kelas kecil. Dia berharap, ada pengertian baik dari pemerintah maupun para pekerja agar bisa menghadapi krisis ini bersama-sama.
Dalam hemat Sofjan, salah satu yang menjadi titik penting untuk mengurangi beban pengusaha adalah faktor biaya untuk para pekerja. “Bahkan ada para pekerja yang bersedia UMR-nya nggak naik, asalkan dia tetap kerja. Yang penting dia tetap dapat pemasukkan,” kata dia.

Sofyan menambahkan, dampak krisis global terhadap Indonesia memang baru terasa di sektor komoditas untuk tahun ini. Namun tahun depan, dampak ini diperkirakan akan meluas ke sektor manufaktur.

PHK di Merpati Nusantara

Terlepas dari isu krisis, sebelumnya PHK besar-besaran sudah terjadi di PT Merpati Nusantara Airlines menyusul pengangkatan Dirut baru Bambang Bhakti yang ditugasi untuk merestrukturisasi perusahaan penerbangan tersebut. Merpati mem-PHK 1300 karyawannya pada September lalu karena mengalami kelebihan jumlah karyawan yang besar sekali mengingat jumlah pesawat yang beroperasi hanya 19 buah (dari sebelumnya 90 pesawat).

Sekretaris Kementerian BUMN yang juga Komisaris Merpati M Said Didu di Jakarta, Rabu (5/11) mengungkapkan, PHK di Merpati telah menghemat anggaran sebesar Rp 10-15 Miliar per bulan. Sebelumnya, pemerintah sudah menyuntikan dana sekitar Rp 300 miliar yang dialokasikan untuk modal kerja, anggaran golden shakehand (PHK), dan dana pajak terutang perusahaan. Suntikan dana tersebut ditujukan untuk merestrukturisasi Merpati sehingga terhindar dari kebangkrutan.

“Sebelum PHK, kerugian yang diderita Merpati cukup besar,” kata dia seraya mengungkapkan harapannya bahwa restrukturisasi dapat membuat kinerja Merpati lebih baik. Said memperkirakan, akhir tahun ini Merpati bakal meraup laba operasional.

Tags: